Rabu, 10 September 2008

Apa Itu Affiliate Marketting

Affiliate Marketing adalah salah satu cara memperoleh penghasilan dari internet. Di dunia bisnis offline tentu kita pernah mendengar istilah agen, broker, maupun reseller. Sistem kerjanya yaitu, mereka yang berhasil menjual barang atau jasa dari pemilik produk/jasa akan mendapatkan komisi. Nah, di dunia bisnis online, affiliate marketing juga menerapkan sistem ini.

Affiliate Marketing termasuk sebuah bisnis besar. Diperkirakan bisnis ini bernilai sekitar 14 juta dollar setiap tahunnya. Dalam affiliate marketing, kita dibayar kalau kita berhasil menjual produk/jasa seorang merchant atau affiliate merchant.


Merchant atau affiliate merchant adalah orang atau perusahaan yang memiliki produk atau jasa yang mereka pasarkan melalui internet. Sementara orang-orang yang tidak memiliki produk/jasa untuk dijual, bisa membantu affiliate merchant tersebut dalam menjualkan produknya. Untuk setiap produk yang terjual, mereka akan mendapatkan komisi.

Nah, orang-orang yang menghasilkan uang dengan cara tersebut di atas disebut "affiliate marketers" atau affiliate. Kadang-kadang mereka juga disebut "associates" atau "program partners".

E-commerce



Kalau kita mendaftarkan diri pada "affiliate program" milik affiliate merchant, artinya kita mendaftarkan diri menjadi salah satu anggota jajaran sales online mereka. Affiliate merchant hanya memberikan komisi kepada affiliate marketers hanya bila mereka berhasil menjual produk/jasa yang ditawarkan.

Bagaimana cara kerja affiliate marketing ini? Dalam dunia bisnis online, semua affiliate marketer melakukan penjualan melalui "link khusus" atau dikenal dengan istilah "affiliate link". Affiliate link ini diberikan oleh affiliate merchant (pemilik barang/jasa).

Misalnya, kita menemukan sebuah produk bagus yang ditawarkan di internet. Pemilik produk membuka program affiliate & menawarkan komisi sebesar 40% untuk setiap produk yang terjual.

Kemudian kita bisa langsung mendaftarkan diri menjadi affiliate marketernya dengan mengisi sebuah form yang sudah disediakan melalui situs yang ada. Biasanya merchant akan meminta kita untuk mengisi nama, alamat lengkap, nama penerima "cek" (untuk komisi), email, nomor telepon, dan sebagainya.

Selanjutnya kita akan diminta untuk membaca "affiliate agreement" (perjanjian affiliate). Affiliate agreement adalah sebuah dokumen legal yang mengikat kita dengan affiliate merchant. Isinya biasanya menyatakan kesepakatan kita terhadap syarat & ketentuan yang diterapkan oleh affiliate merchant, seperti tidak boleh mengirimkan email spam (email komersial yang tidak diminta oleh pemilik email tersebut).

Affiliate agreement ini penting karena jika kita melanggar syarat dan ketentuan yang telah tertulis di sana, affiliate merchant bisa menunda pembayaran atau bahkan mengeluarkan kita dari affiliate program mereka.

Nah, setelah kita menyatakan bersedia mematuhi affiliate agreement tersebut, affiliate merchant akan memberikan sebuah "affiliate link" untuk kita. Tugas kita selanjutnya adalah mempromosikan affiliate link tersebut sampai terjadi transaksi penjualan atau pembelian. Enaknya, kita tidak usah pusing tentang stok barang, pengiriman, administrasi pembayaran, dsb. Serahkan semua pada merchant, biar merchant yang urus. Tugas kita hanya berpromosi, TITIK.

Contoh merchant yang menyediakan program affiliate yang memiliki matrik lebih dari 1 level, atau bisa dibilang gabungan antara affiliate dengan mlm :
www.laptop30rb.com

Intinya, semua produk/jasa yang dijual di dunia offline bisa juga dijual di dunia online/internet. Baik itu tshirt, buku, komik, CD, jasa konsultan, jasa design, dsb.

Minggu, 10 Agustus 2008

PPC, Nge klik iklan dibayar? benarkah?

Saat ini di Indonesia mulai semarak bisnis pay per clik (PPC) versi Indonesia. Konsep kerja utamanya tentu memiliki persamaan dengan Google Adsense punya Google. Konsep utamanya adalah perusahaan ini menampung iklan pelanggannya (pemasang iklan), kemudian perusahaan bekerjasama dengan ratusan bahkan ribuan pemilik website lainnya (publisher/penerbit) untuk menayangkan iklan pelanggan tadi.


Contoh Gamapangnya PT.BENU ingin pasang iklan di Kumpulblogger.com, maka PT.BENU menyetor deposit ke kumpulblogger. PT.BENU disebut pemasang iklan, ia mengeluarkan uang sebagai biaya promosi. Kumpulblogger.com bekerjasama dengan penerbit yang mempunyai website misalkan si Abba, kemudian iklan PT.BENU akan tampil di web/blog Abba. saat iklan PT.BENU diklik oleh pengunjuk maka PT.BENU bayar ke kumpulblogger.com sebagai biaya iklan (misal Rp 500 per click) dan Kumpulblogger.com bayar ke Abba yang telah mambantu menayangkan iklan tersebut (misal Rp 300). Kumpulbloger.com dapat duit, si Abba dapat duit, dan PT.BENU semoga apa yang dia iklankan laku dan dapat duit dari situ. Itulah bisnis Pay Per Clik. Tentu tidak sembarang klik yang dibayar, ada ketentuan yang ketat, sangsi akan pelanggaran, juga software pendeteksi valid clik yang canggih sehingga pemasang iklan tidak dirugikan.

Bisnis PPC ini saat ini telah berkembang pesat di Indonesia, diantara PPC yang ada penulius uraikan sedikit dibawah ini :
1. Kumpulblogger.com
2. Adspeedy.com
3. PPCindo.com
4. PanenIklan.com
5. IndoFad.com
6. dan lain-lain yang belum terkenal... mohon kawan2 tambahkan bila ada yang muncul belakangan dan saya belum tahu.

Senin, 09 Juni 2008

Sejarah Jual Beli Valas

6Sejak jaman dahulu, manusia telah melakukan perdagangan dengan sekelilingnya untuk berbagai alasan dengan cara sistem barter. Seiring dengan perkembangnya jaman dan peradaban sistem barter ini gugur karena mempunyai banyak kelemahan sehingga ditemukan sistem – sistem pembayaran yang baru yang sampai pada akhirnya dengan menggunakan uang sebagai alat pertukaran dan pembayaran. Sistem pembayaran dengan menggunakan uang juga mempunyai kelemahan untuk bertransaksi dengan suatu negara yang memiliki jenis mata uang yang berbeda.

Kebutuhan akan nilai tukar timbul karena mata uang suatu negara biasanya tidak diterima sebagai media atau alat tukar di negara lain. Hubungan perdagangan internasional menimbulkan adanya permintaan dan penawaran terhadap beberapa mata uang. Hal ini kemudian menyebabkan perkembangan pada bursa pertukaran mata uang asing, sehingga di perlukan pengatur untuk berjuta-juta transaksi permintaan dan penawaran yang terjadi setiap hari, yang menuju pada penentu nilai tukar mata uang asing.

Sejarah pertukaran/perdagangan mata uang dapat dikatakan setua uang itu sendiri dan baru mendapat perhatian yang serius oleh banyak negara pada dekade terakhir ini. Kalau di tinjau pada dekade standar emas (1880 – pecahnya PD I), pada masa tersebut uang dijamin oleh emas murni yang merupakan standar negara tersebut. Defisit neraca pembayaran akan ditutup dengan transfer emas, hingga mengakibatkan money supply menurun dan harga di luar negeri seakan naik, sehingga hal ini akan meningkatkan ekspor sampai defisit hilang, demikian sebaliknya. Dengan demikian, nilai mata uang relatif stabil.

Sampai PD I, standarisasi emas memungkinkan tercapainya tingkat koreksi yang tinggi terhadap neraca pembayaran. Tetapi, tidak demikian pada saat peperangan, kemungkinan besar karena tumbuhnya serikat-serikat perdagangan dan perusahaan-perusahaan besar, adanya jaminan upah dan harga sehingga tidak mudah menurunkan kecenderungan tersebut, yang berdampak berkurangnya lapangan pekerjaan. Karena membengkaknya pengangguran pada awal 1930-an, standarisasi emas tidak dipakai lagi.

Setelah perang dunia selesai dan depresi ekonomi dunia pada tahun 1930 – an, dunia menginginkan suatu stabilitas ekonomi yang lebih baik. Sehingga Pada tanggal 22 Juli 1944, atas prakarsa dari Amerika Serikat, diadakan suatu konferensi Moneter Internasional yang dikenal dengan : “The Bretton Woods Conference“, yang dihadiri 44 negara. Usulan yang diajukan oleh delegasi Amerika Serikat (White Plan) menyusun rencana-rencana dasar yang disetujui.

Dalam konferensi tersebut, diciptakan suatu system pertukaran mata uang tetap yang disebut dengan “Fixed Exchange Rate System“, yang mempunyai beberapa persamaan dengan standar emas, dimana memuat ketentuan :

  1. Tiap negara menetapkan nilai tukarnya terhadap mata uang USD;
  2. Amerika menetapkan nilai USD terhadap emas (USD 35/ounce);
  3. Amerika akan menjual emas dengan harga tetap kepada pemegang resmi dari mata uang USD;
  4. Perubahan nilai tukar mata uang terhadap USD tidak boleh melebihi 1%, bila terpaksa bisa sampai max 10%.

Sejak saat itu negara – negara di dunia serta Amerika mulai tumbuh dengan pesat dan dua tahun setelah konferensi tersebut, didirikan lembaga moneter internasional & Bank Dunia yang kita kenal saat ini dengan IMF (International Monetary Fund) dan Word Bank, untuk mengawasi system tersebut.

Kemudian perubahan terjadi di Amerika, Pada periode tahun 1960-an, defisit neraca pembayaran Amerika memaksa negara tersebut melepaskan cadangan emasnya sebesar USD 18 billion karena Prancis menukarkan USD-nya dengan emas dan di lanjutkan pada periode tahun 1970-an, amerika kembali harus melepaskan cadangan emasnya sebesar USD 11 billion. Buruknya perekonomian Amerika pada waktu itu menyebabkan masyarakat dunia kurang percaya terhadap USD. Dan di negara yang memiliki mata uang yang kuat karena memiliki cadangan emas yang cukup seperti Swiss dan Jerman, mereka menukarkan USD-nya dengan mata uang mereka yaitu CHF dan MDK. Hal ini menyebabkan hutang jangka pendek yang hampir jatuh tempo di Amerika mencapai hampir dua kali cadangan emasnya.

Sistem Bretton Wood hanya mampu bertahan hampir mencapai 30 tahun, pada tanggal 15 Agustus 1971, Presiden Nixon mengumumkan perubahan system nilai tukar untuk USD dengan membiarkan nilai tukarnya mengambang (Floating Exchange Rate System), hal ini ditegaskan kembali dalam suatu konferensi di Washington pada tanggal 17-18 Desember 1971 (SMITHSONIAN CONFERENCE), dari sinilah lahirnya nilai kurs yang mengambang dan berlaku sampai dengan sekarang.

Setelah Presiden Nixon menetapkan nilai mengambang untuk mata uang USD, banyak negara yang memutuskan untuk mengambangkan nilai tukarnya, seperti : Jerman, Inggris, Belanda, bahkan Jepang dan tahun – tahun berikutnya banyak negara di dunia yang membiarkan nilai uangnya mengambang sesuai dengan mekanisme pasar, yaitu kekuatan permintaan dan penawaran.

Sabtu, 10 Mei 2008

Mengenal Bisnis MLM

Menurut Robert Kiosaki, Bisnis jaringan yang sering kita sebut-sebut dengan istilah MLM adalah bisnis yang akan bertahan dan menjadi bisnis masa depan. lantas apa itu MLM?



Pemasaran berjenjang
(bahasa Inggris: multi-level marketing) adalah sistem penjualan yang memanfaatkan konsumen sebagai tenaga penyalur secara langsung. Harga barang yang ditawarkan di tingkat konsumen adalah harga produksi ditambah komisi yang menjadi hak konsumen karena secara tidak langsung telah membantu kelancaran distribusi.

Keanggotaan

Promotor (upline) biasanya adalah anggota yang sudah mendapatkan hak keanggotaan terlebih dahulu, sedangkan bawahan (downline) adalah anggota baru yang mendaftar atau direkrut oleh promotor. Akan tetapi, pada beberapa sistem tertentu, jenjang keanggotaan ini bisa berubah-ubah sesuai dengan syarat pembayaran atau pembelian tertentu.

Komisi yang diberikan dalam pemasaran berjenjang dihitung berdasarkan banyaknya jasa distribusi yang otomatis terjadi jika bawahan melakukan pembelian barang. Promotor akan mendapatkan bagian komisi tertentu sebagai bentuk balas jasa atas perekrutan bawahan.

Kontroversi

Seringkali ditemukan kerancuan istilah antara pemasaran berjenjang dengan permainan uang (money game). Pemasaran berjenjang pada hakikatnya adalah sebuah sistem distribusi barang. Banyaknya bonus didapat dari omzet penjualan yang didistribusikan melalui jaringannya. Hal ini sangat berbeda dengan permainan uang. Bonus seringkali didapat dari perekrutan, bukan omzet penjualan.

Sistem permainan uang cenderung menggunakan skema piramida (atau skema Ponzi) dan orang yang terakhir bergabung akan kesulitan mengembangkan bisnisnya. Dalam pemasaran berjenjang, walaupun dimungkinkan telah memiliki banyak bawahan, tetapi tanpa omzet tentu saja bonus tidak akan diperoleh.

Informasi tentang jenis pemasaran berjenjang yang benar dapat mengacu pada Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 13/M-DAG/PER/3/2006 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Izin Usaha Penjualan Langsung dengan memuat larangan tegas yang tercantum pada bab VII.

Masalah di dalam pemasaran berjenjang sering terjadi bila sistem komisi menjurus pada permainan uang. Biaya keanggotaan bawahan secara virtual telah dibagikan menjadi komisi promotor sementara harga barang menjadi terlalu mahal untuk menutupi pembayaran komisi kepada promotor. Dalam jangka panjang, hal ini membuat komisi menjadi tidak seimbang, di mana komisi telah melebihi harga barang dikurangi harga produksi.

Hal ini tentu akan membuat membuat konsumen di tingkat tertinggi mendapatkan harga termurah atau bahkan mendapatkan keuntungan bila mengetahui cara mengolah jaringannya, sedangkan konsumen yang baru bergabung mendapatkan kerugian secara tidak langsung karena mendapatkan harga termahal tanpa mendapatkan komisi atau komisi yang didapatkan tidak sesuai dengan usaha yang telah dilakukan sehingga akhirnya anggota baru tersebut terangsang untuk mencari konsumen baru agar mendapat komisi yang bisa menutupi kerugian virtual yang ditanggungnya.

Pelanggaran bisa pula terjadi bila perusahaan penyedia sistem pemasaran berjenjang menjanjikan sesuatu berlebih yang tidak mungkin bisa dicapai konsumen. Misalnya, jika konsumen bisa mendapatkan 10 jenjang jaringan yang setiap jenjangnya harus berisi 10 anggota, maka ia akan mendapatkan bonus Rp 10 Miliar. Sepintas hal ini terlihat menggiurkan dan mudah, tetapi jika konsumen menggunakan akal sehatnya, ia sebenarnya harus merekrut 1010 bawahan atau 100 juta anggota baru (hampir separuh penduduk Indonesia).

Dewasa ini, telah berkembang sistem pemasaran viral yang merupakan salah satu bagian model pemasaran berjenjang. Beberapa hal yang membedakan antara lain:

  • Tidak ada bonus perekrutan karena bebas biaya bergabung.
  • Produk yang dipasarkan merupakan produk dinamis, misalnya pulsa telepon seluler.
  • Bonus hanya diperoleh dengan adanya pemesanan berulang.
  • Harga produk lebih murah atau hampir sama dengan harga pasar konvensional.
  • Komisi atau bonus tiap transaksi yang dilakukan relatif kecil.
  • Bonus akan signifikan pada jaringan yang besar.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, pemasaran viral dipercaya dapat membuat kompetisi di pasar konvensional menjadi semakin menarik karena pada dasarnya keunggulan pemasaran berjenjang adalah captive market yang tersistem ditambah dengan konsep pemasaran konvensional yang bertumpu pada harga dan produk.